Selasa, 23 Februari 2010

Bandeng Presto | Jual Bandeng

Pusat jual ikan bandeng segar Jadebotabek hubungi bapak harnoto 08176667892. kami siap bekerja sama dengan para pasar modern seperti superindo, supermarket, fresmarket, serta pasar tradisional di seluruh Jabodetabek

Dokter Bandeng | Pasiennya Manusia

Pusat penjualan ikan bandeng jabodetabek hubungi bapah harnoto 08176667892. kami siap bekerja sama denga para distributor bandeng seperti supermarket fresmarket carefure.superindo dan berbagai pasar tradisional di jakarta


di ruang praktik dokter ada sebuah tempat tidur dengan sprei berwarna putih. Terlihat pula, beberapa peralatan medis untuk pemeriksaan, seperti stetoskop, alat medis akustik untuk memeriksa suara dalam tubuh.

Bau obat-obatan pun bakal tercium sejak pintu ruang praktik itu terbuka. Tetapi jangan bayangkan akan menemui itu ketika pasien datang ke ruang praktik dokter Daniel Nugroho (70). Tak ada bed bersprei atau bau obat. Sebagai gantinya adalah tumpukan bandeng presto dan makanan lainnya.
Ya, sejak tidak membuka tempat praktik tahun 1999, pasien setianya langsung datang ke toko bandeng Juwana miliknya, di Jl Pandanaran, Semarang. ‘’Kalau mereka masih percaya sama saya ya saya obati dan saya beri resep,’’ kata dia.


Acapkali dia tak menarik biaya sedikit pun kepada pasiennya. Dengan ragam alasan. Namun layanan demikian, tidak jarang, justru menimbulkan perasaan sungkan bagi para pasien. “Karena tidak enak dengan saya, akhirnya mereka malah membeli bandeng,’’ ujarnya.
Sejak itu, para pasien, terutama pelanggannya hafal dengan dokter Daniel. Begitu sering menerima praktik di toko akhirnya lelaki itu lebih dikenal dengan Daniel ‘’Bandeng’’.


Dahulu, tempat praktik yang dibuka pada 1970 berada di samping toko bandeng presto miliknya. Sekarang di samping berkonsentrasi pada bisnis tokonya, dia masih menyempatkan diri berpraktik di Apotek Sputnik, di samping tokonya. Namun, tetap saja pasiennya selalu mendatangi toko untuk mencarinya.
Profesi dokter yang disandangnya sekarang lebih digunakan untuk sesuatu yang sifatnya sosial. Rasa simpati dan empati, menjadi alasan kuat bagi Daniel untuk membantu sesama, sesuai dengan kemampuan dan keahliannya.


Sebuah kesalahan besar baginya ketika menolak pasien yang datang meminta pertolongan, karena sibuk berbisnis. Sejatinya Daniel menyadari dirinya adalah dokter.”Sampai saat ini saya masih punya izin praktik,’’ kata laki-laki berusia 75 tahun yang berniat tetap menjalani profesinya sampai meninggal dunia


Dokter Pahe


Bukan hanya dokter Daniel. Sentuhan layanan sosial juga melekat kuat pada diri dokter Sofwan Dahlan (65). Tak perlu takut akan biaya mahal ketika datang ke praktek dokter ini.


Bagi Sofwan tarif menempati urusan kesekian, yang terpenting pasien bisa segera sembuh.
Alasan yang diutarakan spesialis forensik itu sederhana. “Karena dulu waktu sekolah tidak pernah bayar, buku juga gratis,’’ kata dia yang membuka praktik di Jl Simongan 29 Semarang, sejak 35 tahun lalu.


Itulah mengapa dia menerapkan ‘’pahe’’ (paket hemat) dalam mematok tarif. Tak pernah sekali pun dia menarik biaya pengobatan lebih dari Rp 5.000. Tarif ini bukan jasa dokter, melainkan sudah termasuk obat-obatan yang dibutuhkan pasien.
Bahkan tak jarang jika kebetulan obat yang dibutuhkan pasien tidak dimilikinya, sementara keadaan pasien sangat membutuhkan, Sofwan tak segan-segan merogoh koceknya untuk membantu pasiennya.


“Niat saya jadi dokter itu untuk menolong bukan mencari uang. Soal rezeki bisa datang dari mana saja,’’ kata dokter ahli forensik RS Kariadi Semarang itu.
Layanan istimewa membuatnya menjadi tersohor di mana-mana. Informasi dari mulut ke mulut menjadikan tempat praktiknya dikunjungan tidak kurang dari 100 pasien setiap harinya. Namun kini, jam praktik dikurangi dari sebelumnya sejak 16.30 -24.00 menjadi 17.30-21.00. Bertambahnya usia menjadi alasan dikuranginya jam praktik tersebut.


Diakuinya, program Jamkesmas membuat jumlah pasiennya menurun. Meski begitu tetap saja sejumlah pasien tetap memilih berobat di tempatnya. Mereka berasal dari berbagai daerah seperti Gunungpati, Kendal dan Weleri. “Gak masalah pasien berkurang. Ini berarti masyarakat sudah lebih bisa menjaga kesehatan,’’ katanya.


Sebenarnya dokter bukanlah cita-citanya. Dia masa mudanya, laki-laki kelahiran Kendal, 65 tahun lalu itu sangat menginginkan untuk menjadi pilot. Apa mau dikata, nasib ternyata tak menuntunnya untuk menjadi pilot. Dia pun dinyatakan gagal dalam ujian.
Namun bukan berarti kegagalan impiannya membuat Sofwan muda lantas berputus asa. Pilihan menjadi dokter berlandaskan pada keinginan untuk mengabdi pada masyarakat.


Sejumlah sindiran yang tertuju mengingat tarif murah yang diterapkan sama sekali tak dihiraukan. “Jangan sampai profesi dokter itu diperdagangkan,’’ tegas alumni Fakultas Kedokteran Undip itu.(Roosalina, Anggun Puspita-77)

sumber: suara merdeka